Aku dan Serum-G. Tiga kata yang harus aku untai menjadi ratusan bahkan ribuan kalimat. Tapi aku tidak tahu. Siapa sangka aku bisa menjadi bagian pundi estafet perjuangan dakwah di fakultas ini, FMIPA sebut saja. Memang sebelumnya aku pernah tergabung dalam barisan dakwah di kampus tarbiyah ini. Ya karena itu hobbiku, hobiku o-n-l-i-n-e. Sekadar meng-update jadwal shalat, kul-tweet di waktu senggang, mem-broadcast sms atau pesan dakwah itu tidak sulit. Ya, asal jangan diberi deadline desain, aku suka. Memang tak mudah tergabung dalam barisan dakwah, meniti jalan yang memang harus dilalui langkah demi langkah, melewati onak yang kalau sampai aku menginjaknya habislah aku. Kalau boleh memilih, aku tidak akan memberikan pilihan. Bukan ya atau tidak, namun gantung.
“If you never try, you will never know”, satu kalimat yang selalu aku junjung, motto hidupku. Aku pernah melakukan kesalahan di jalan dakwah sebelumnya. Tidak amanah? Ah, aku tetap menjalankan tugasku untuk online di akun ummat itu. Aku hanya tidak pernah tergabung, bersatu dalam lingkaran yang sengaja mereka ciptakan untuk memberi ketenangan pada hati-hati yang rindu akan Rabb-nya. Untuk itu, aku mencoba memungut sebagian helai daun yang kering, dan berguguran itu lalu aku simpan, setidaknya daun itu tidak jatuh berserakan (re: semangat). Aku yang tak bisa memilih pada akhirnyapun memilih. Karena hidup adalah pilihan diantara beberapa pilihan yang memang harus dipilih. Agak ruwet, mudah-mudahan kalian mengerti maksudku.
Jika ada satu alasan yang memang benar-benar menjadi alasan kenapa “aku” ada dalam lingkaran dakwah ini: Aku Tidak Tahu. Sempat kutanya pada seseorang kenapa setiap orang harus menyampaikan kebaikan?
“Sebab hal itu adalah kewajiban” Katanya.
“Manusia yang dilahirkan ke dunia telah memiliki kontrak perjanjian untuk berdakwah, menyampaikan kebaikan” Katanya lagi dengan semangat berapi-api.
“Meskipun orang itu belum baik apakah kita harus menyampaikan kebaikan?” Aku bertanya lagi, seolah tak ingin menjadi agen penyampai kebaikan sebab dirasa aku belum baik, namun sebenarnya ingin.
“Katakanlah hal benar meski kebenaran itu bertentangan dengan dirimu, Kata Rasulullah SAW. Kamu paham kan maksudku?” Dia menjelaskan membuat aku bingung harus menanggapi apa lagi.
“Kalau dakwah hanya dilakukan oleh orang-orang baik lantas bagaimana orang-orang yang baru berhijrah menjadi lebih baik? Sebab kebaikan harus tetap disampaikan, disebarkan” Katanya menambahkan lagi melihat aku yang diam termenung.
“Lantas dakwah tak perlu bersama-sama kan boleh sendiri?” Aku memastikan sambil bertanya. “Hal apa yang lebih indah dari sayap-sayap yang saling berterbangan menyebar kebaikan? Hati mereka saling menyatu karena terpaut cinta pada Rabbnya. Jika mereka lelah, ada sahabat yang saling menguatkan. Sahabat yang saling membimbing” Katanya sedikit berbisik, seolah tak ada satu orangpun yang boleh mendengar.
Aku lebih suka sendiri: kataku pelan.
“Menyendiri adalah penderitaan, Tetapi kebersamaan tak kalah buruknya”
Begitulah kata Salim A.Fillah. Lantas mengapa aku ingin tetap menyendiri? Tak ada alasan.
Kini, aku yang ingin berjalan bersama dengan berpasang-pasang kaki yang terdengar begitu jelas hentakkan langkahnya, aku yang ingin bergerak dengan berpasang-pasang tangan yang siap terulur untuk membantu, aku yang ingin terbakar bersama banyak jiwa dengan semangat bergelora demi jalan juang ini, aku yang ingin membersamai hari-hari dengan hati yang selalu terpaut cinta pada Tuhan-nya, Allah. Aku yang ingin berjuang bersama kalian di jalan dakwah ini(re : Serum-G).
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” QS Muhammad: 7
This entry passed through the Full-Text RSS service – if this is your content and you’re reading it on someone else’s site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.
No comments:
Post a Comment